08 October 2026
RS Annisa//- Gadget telah menjadi bagian dari kehidupan anak. Ponsel, tablet, komputer, dan televisi digunakan untuk belajar, bermain, menonton, hingga berkomunikasi. Namun, kebiasaan melihat layar terlalu dekat atau terlalu lama sering menimbulkan kekhawatiran: apakah gadget dapat menyebabkan anak mengalami mata minus besar?
Gadget bukan satu-satunya penyebab mata minus atau miopia pada anak. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor keturunan dan lingkungan. Meski demikian, aktivitas melihat dekat dalam waktu lama—termasuk membaca dan memakai gadget—serta kurangnya aktivitas di luar ruangan berkaitan dengan meningkatnya risiko miopia.
Karena itu, orang tua perlu mengatur penggunaan gadget sekaligus memperhatikan tanda gangguan penglihatan pada anak. Pemeriksaan oleh dokter spesialis mata diperlukan untuk mengetahui kondisi mata dan ukuran kacamata yang tepat.
Mata minus atau miopia merupakan kondisi ketika anak dapat melihat benda dekat dengan cukup jelas, tetapi kesulitan melihat objek yang jauh. Kondisi ini terjadi ketika cahaya terfokus di depan retina, bukan tepat pada retina.
Anak dengan miopia mungkin tidak langsung menyadari bahwa penglihatannya bermasalah. Mereka dapat menganggap pandangan yang buram sebagai sesuatu yang normal. Akibatnya, gangguan mata baru diketahui setelah anak mengalami kesulitan melihat tulisan di papan, membaca petunjuk dari kejauhan, atau mengikuti kegiatan sekolah.
Menurut American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus, faktor risiko miopia pada anak antara lain riwayat keluarga, aktivitas melihat dekat dalam waktu lama, penggunaan layar, dan kurangnya waktu di luar ruangan.
Pernyataan bahwa gadget pasti menyebabkan mata minus kurang tepat. Miopia merupakan kondisi yang dipengaruhi banyak faktor. Anak dengan orang tua yang memiliki mata minus, misalnya, dapat mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengalami kondisi serupa.
Namun, penggunaan gadget biasanya membuat anak melakukan aktivitas jarak dekat secara terus-menerus. Risiko dapat meningkat apabila layar digunakan terlalu dekat, terlalu lama tanpa jeda, atau menggantikan aktivitas bermain di luar ruangan.
Layar juga dapat menyebabkan kelelahan mata digital. Saat berkonsentrasi menatap layar, anak cenderung lebih jarang berkedip. Akibatnya, mata bisa terasa kering, lelah, perih, atau mengalami pandangan buram sementara. Kelelahan mata akibat layar tidak selalu berarti ukuran minus bertambah, tetapi keluhan yang berulang tetap perlu diperhatikan.
Tidak semua anak dapat menjelaskan keluhan penglihatannya. Orang tua dan guru perlu memperhatikan perubahan kebiasaan yang mungkin menandakan gangguan mata, antara lain:
Bila tanda-tanda tersebut muncul, pemeriksaan dengan dokter spesialis mata sebaiknya tidak ditunda. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah anak mengalami mata minus, silinder, mata malas, gangguan koordinasi mata, atau kondisi lainnya.
Selain durasi, cara menggunakan gadget juga memengaruhi kenyamanan mata. Kebiasaan yang perlu diperbaiki meliputi penggunaan layar terlalu dekat, pencahayaan yang kurang baik, posisi tubuh tidak nyaman, serta memakai gadget terus-menerus tanpa beristirahat.
Ajak anak menggunakan perangkat di ruangan yang terang dan menghindari pantulan cahaya langsung pada layar. Posisi layar sebaiknya tidak terlalu dekat dengan wajah. Apabila memungkinkan, pilih layar yang lebih besar untuk kegiatan belajar dan letakkan pada jarak yang nyaman.
Anak juga sebaiknya tidak memakai gadget sambil berbaring dalam ruangan gelap. Selain membuat jarak layar sulit dikontrol, kebiasaan tersebut dapat membuat mata lebih cepat lelah dan mengganggu waktu tidur.
Salah satu cara sederhana untuk mengurangi kelelahan mata adalah aturan 20-20-20. Setelah memakai layar selama 20 menit, ajak anak melihat objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau kurang lebih enam meter selama 20 detik.
Jeda singkat membantu mata beristirahat dari aktivitas melihat dekat. Orang tua dapat memasang pengingat, mengajak anak berdiri, melihat melalui jendela, atau melakukan kegiatan tanpa layar.
Panduan AAPOS mengenai waktu layar juga menyarankan istirahat teratur, penggunaan layar pada jarak yang nyaman, dan perhatian terhadap keluhan seperti sakit kepala, mata nyeri, atau pandangan buram.
Waktu di luar ruangan mempunyai manfaat penting bagi kesehatan mata anak. Paparan cahaya alami berkaitan dengan risiko terjadinya miopia yang lebih rendah dan berpotensi membantu memperlambat perkembangannya.
Usahakan anak memiliki waktu sekitar satu hingga dua jam untuk melakukan aktivitas luar ruangan setiap hari. Kegiatan tersebut tidak harus berupa olahraga berat. Berjalan, bermain bola, bersepeda, berkebun, atau bermain bersama teman sudah dapat membantu mengurangi waktu yang dihabiskan untuk aktivitas jarak dekat.
Tetap perhatikan keamanan, pengawasan, cuaca, serta penggunaan topi atau perlindungan dari sinar matahari sesuai kebutuhan.
Ukuran minus dapat bertambah selama masa pertumbuhan, terutama ketika bola mata masih berkembang. Anak dengan miopia tinggi memerlukan pemantauan karena memiliki risiko lebih besar mengalami masalah mata tertentu pada kemudian hari.
Kacamata minus besar bukan berarti anak harus dilarang membaca atau belajar. Anak justru perlu menggunakan kacamata sesuai resep agar dapat melihat, belajar, dan beraktivitas dengan nyaman. Mengurangi ukuran kacamata tanpa anjuran dokter tidak terbukti menghentikan pertambahan minus.
Dokter spesialis mata dapat memeriksa ketajaman penglihatan, ukuran refraksi, kesehatan bagian depan dan belakang mata, serta perkembangan miopia. Jika diperlukan, dokter dapat menilai pilihan pengendalian miopia berdasarkan usia dan kondisi mata anak.
Sebagian besar anak dengan miopia perlu menjalani pemeriksaan setidaknya satu kali dalam setahun. Jadwal kontrol dapat lebih sering apabila minus cepat bertambah atau anak sedang menjalani terapi pengendalian miopia.
Tujuan pengaturan gadget bukan sekadar melarang anak menggunakan teknologi. Orang tua perlu membantu anak membangun kebiasaan yang lebih sehat dan realistis.
Buat jadwal penggunaan gadget, selingi dengan aktivitas fisik, dan berikan contoh dengan tidak terus-menerus memakai ponsel saat bersama anak. Pastikan waktu tidur tetap terjaga dan hentikan penggunaan layar setidaknya satu jam sebelum tidur.
Perhatikan pula posisi belajar, pencahayaan ruangan, jarak membaca, serta penggunaan kacamata sesuai resep. Jangan membeli kacamata secara sembarangan tanpa pemeriksaan, terutama ketika anak mengeluhkan pandangan buram atau sakit kepala.
Hubungan antara gadget dan mata minus pada anak tidak dapat dinilai hanya berdasarkan durasi layar. Riwayat keluarga, kebiasaan melihat dekat, aktivitas luar ruangan, serta kondisi kesehatan mata anak perlu diperiksa secara menyeluruh.
Apabila anak sering melihat terlalu dekat, menyipitkan mata, mengeluhkan pandangan buram, atau mengalami perubahan ukuran minus, konsultasikan dengan Dokter Spesialis Mata RS Annisa Cikarang. Pemeriksaan sejak dini membantu anak memperoleh koreksi penglihatan dan pemantauan yang sesuai.
Informasi dan pendaftaran:
Customer Service RS Annisa: 0896-8539-3749
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh dokter.