07 August 2026
Diare pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering dialami, terutama pada bayi dan balita. Kondisi ini ditandai dengan buang air besar (BAB) yang lebih sering dari biasanya dengan konsistensi tinja yang cair atau lembek. Meskipun sebagian besar kasus diare dapat membaik dalam beberapa hari, orang tua tetap perlu waspada karena diare dapat menyebabkan dehidrasi, yaitu kondisi ketika tubuh kehilangan terlalu banyak cairan dan elektrolit.
Menurut berbagai organisasi kesehatan, dehidrasi merupakan penyebab utama komplikasi akibat diare pada anak. Oleh karena itu, mengenali gejala diare, tanda-tanda dehidrasi, serta mengetahui kapan harus membawa anak ke dokter merupakan langkah penting agar Si Kecil mendapatkan penanganan yang tepat.
Diare adalah kondisi ketika anak mengalami BAB cair atau lembek lebih dari tiga kali dalam sehari. Diare dapat berlangsung selama beberapa hari dan biasanya disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau parasit. Selain itu, diare juga dapat dipicu oleh alergi makanan, intoleransi laktosa, efek samping obat tertentu, maupun keracunan makanan.
Pada sebagian besar kasus, diare akan membaik dengan perawatan yang tepat di rumah. Namun, apabila berlangsung lama atau disertai gejala tertentu, anak perlu segera diperiksa oleh Dokter Spesialis Anak.
Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan diare pada anak, di antaranya:
Karena penyebabnya beragam, pemeriksaan medis diperlukan apabila diare tidak kunjung membaik atau disertai tanda bahaya.
Selain BAB cair yang lebih sering, anak juga dapat mengalami beberapa gejala berikut:
Orang tua perlu memperhatikan apakah anak masih mau minum dan buang air kecil seperti biasa, karena kedua hal tersebut menjadi indikator penting kondisi cairan tubuh.
Dehidrasi adalah komplikasi yang paling sering terjadi akibat diare. Kondisi ini dapat berkembang dengan cepat, terutama pada bayi dan balita.
Segera periksakan anak ke dokter apabila muncul tanda-tanda berikut:
Semakin cepat dehidrasi ditangani, semakin kecil risiko terjadinya komplikasi yang lebih serius.
Meskipun banyak kasus diare dapat dirawat di rumah, beberapa kondisi berikut memerlukan pemeriksaan medis sesegera mungkin:
Jika diare tidak kunjung membaik setelah dua hari atau justru semakin sering, anak perlu diperiksa untuk mengetahui penyebabnya.
Kurangnya asupan cairan dapat mempercepat terjadinya dehidrasi. Bila anak menolak minum atau selalu muntah setiap kali minum, segera konsultasikan ke dokter.
Darah pada tinja dapat menjadi tanda infeksi bakteri atau gangguan lain yang memerlukan penanganan khusus.
Diare yang disertai demam tinggi dapat menunjukkan adanya infeksi yang lebih serius dan perlu dievaluasi oleh tenaga medis.
Muntah terus-menerus menyebabkan cairan tubuh semakin banyak hilang sehingga meningkatkan risiko dehidrasi.
Jika anak lebih banyak tidur, sulit dibangunkan, tidak aktif bermain, atau tampak sangat lemah, segera bawa ke fasilitas kesehatan.
Apabila kondisi anak masih ringan dan belum menunjukkan tanda bahaya, orang tua dapat melakukan beberapa langkah berikut:
Pastikan anak tetap mendapatkan cairan yang cukup untuk menggantikan cairan yang hilang akibat diare.
Oralit membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang. Gunakan sesuai petunjuk atau anjuran tenaga kesehatan.
Bayi yang masih menyusu sebaiknya tetap mendapatkan ASI sesering mungkin karena ASI membantu memenuhi kebutuhan cairan sekaligus mendukung daya tahan tubuh.
Saat diare, berikan makanan seperti:
Hindari sementara makanan yang terlalu pedas, berminyak, bersantan, atau minuman bersoda.
Cuci tangan menggunakan sabun sebelum menyiapkan makanan, setelah mengganti popok, dan setelah dari toilet agar penyebaran kuman dapat dicegah.
Pencegahan merupakan langkah terbaik untuk melindungi kesehatan anak. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
Dengan menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat, risiko diare pada anak dapat dikurangi secara signifikan.
Dokter Spesialis Anak akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui penyebab diare, menilai tingkat dehidrasi, serta menentukan terapi yang paling sesuai. Bila diperlukan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan laboratorium atau pemberian cairan infus pada kondisi dehidrasi sedang hingga berat.
Pemeriksaan sejak dini membantu mencegah komplikasi serta mempercepat proses pemulihan sehingga anak dapat kembali beraktivitas dengan nyaman.
Apabila Si Kecil mengalami diare yang tidak kunjung membaik, disertai demam tinggi, muntah berulang, BAB berdarah, atau menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, jangan menunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak di RS Annisa.
RS Annisa menyediakan layanan pemeriksaan dan penanganan kesehatan anak yang didukung oleh Dokter Spesialis Anak berpengalaman untuk membantu menemukan penyebab diare dan memberikan terapi sesuai kondisi anak.
Untuk mengetahui jadwal praktik Dokter Spesialis Anak, Anda dapat memindai QR Code Jadwal Dokter Anak RS Annisa yang tersedia pada media informasi RS Annisa atau menghubungi Customer Service RS Annisa melalui WhatsApp 0896-8539-3749 untuk informasi jadwal praktik, konsultasi, dan pendaftaran.
Diare pada anak memang sering terjadi, tetapi bukan berarti boleh dianggap sepele. Risiko terbesar dari diare adalah dehidrasi, terutama pada bayi dan balita yang lebih mudah kehilangan cairan tubuh. Oleh karena itu, orang tua perlu mengenali tanda-tanda dehidrasi seperti bibir kering, mata cekung, jarang buang air kecil, hingga anak tampak sangat lemas.
Selain memberikan cairan yang cukup, oralit, dan makanan yang mudah dicerna, orang tua juga harus mengetahui kapan saatnya membawa anak ke Dokter Spesialis Anak. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menemukan penyebab diare, memberikan penanganan yang tepat, serta mencegah komplikasi yang lebih serius. Jika Si Kecil mengalami diare disertai tanda bahaya, segera konsultasikan ke
Dokter Spesialis Anak di RS Annisa agar mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.